Senja di taman ini terasa lebih manis di akhir bulan maret ini. Bunga-bunga terlihat begitu angun dan menikmati cumbuan kumbang dan kupu-kupu. Sedangkan langit tampak meneduhkan dengan semburat oranye dan lembayungnya.
Di bangku taman yang terletak di sudut timur, duduklah ketiga orang pria yang entah bagaimana mereka bisa duduk bersama disana. Orang di sebelah kanan adalah seorang lelaki muda berumur 20-an dengan rambut panjang dan kacamata. Di tengah adalah seorang lelaki dengan kaus singlet dan asap rokok yang tak henti-hentinya mengepulkan racun ke udara dengan tatapan muka terus menengadah ke langit.. Sedangkan pria ketiga yang duduk di sebelah kiri adalah pria gemuk dengna muka kekanakan dan asyik mengunyah sesuatu di mulutnya.
“ Ah sebuah senja yang indah….” Gumam lelaki bersinglet.
“ ya akan lebih indah jika tak kau kotori langit ini dengan asap rokokmu bung” sahut lelaki gondrong.
“ ah.. kau mulai seperti manusia di seberang pagar itu selalu merepotkan diri dengan hal-hal kecil. Lihatlah indah senja yang besar itu dan nikmati kebebasan ini” kata lelaki bersinglet.
“Kebebasan apa? Nyatanya sekarang aku tak bebas dari asap rokokmu yang berembun di kaca mataku” sahut si gondrong dengan ketus.