Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Mei 2010

Tuhan yang kesepian di Taman kota

Tuhan yang kesepian memanggilku bercakap
di taman kota.


Malam di jalan kehabisan pejalan,
menjaga kami dari kantuk. 



Karena kami harus terus terjaga,
kalau-kalau mimpi rakyat terlepas,
saling berkumpul mengadukan perlakukanku
kepada Tuhan. 



Ini bisa runyam.

Aku harus bisa mengantisipasi,
jangan sampai Tuhan tahu.


Dia itu sosoknya tak terduga,
biasanya mihak rakyat kecil.


dan Tuhan kalau kesepian 
permintaannya bisa macam-macam
sampai menjelang pagi.

Kamis, 27 Mei 2010

pada sebuah senja

Senja di taman ini terasa lebih manis di akhir bulan maret ini. Bunga-bunga terlihat begitu angun dan menikmati cumbuan kumbang dan kupu-kupu. Sedangkan langit tampak meneduhkan dengan semburat oranye dan lembayungnya.
Di bangku taman yang terletak di sudut timur, duduklah ketiga orang pria yang entah bagaimana mereka bisa duduk bersama disana. Orang di sebelah kanan adalah seorang lelaki muda berumur 20-an dengan rambut panjang dan kacamata. Di tengah adalah seorang lelaki dengan kaus singlet dan asap rokok yang tak henti-hentinya mengepulkan racun ke udara dengan tatapan muka terus menengadah ke langit.. Sedangkan pria ketiga yang duduk di sebelah kiri adalah pria gemuk dengna muka kekanakan dan asyik mengunyah sesuatu di mulutnya.
“ Ah sebuah senja yang indah….” Gumam lelaki bersinglet.
“ ya akan lebih indah jika tak kau kotori langit ini dengan asap rokokmu bung” sahut lelaki gondrong.
“ ah.. kau mulai seperti manusia di seberang pagar itu selalu merepotkan diri dengan hal-hal kecil. Lihatlah indah senja yang besar itu dan nikmati kebebasan ini” kata lelaki bersinglet.
“Kebebasan apa? Nyatanya sekarang aku tak bebas dari asap rokokmu yang berembun di kaca mataku” sahut si gondrong dengan ketus.

Jumat, 26 Februari 2010

Tabah sampai akhir (part 1)

Jika setiap centi tubuh kami mampu bercerita, mungkin cerita mereka akan lebih baik dari pada sebongkah ingatan dari syaraf otak  yang menjalar melalui impuls ke jemari ini. Bagaimana setiap nafas yang terlepas berarti satu ayuhan kaki dan satu sambaran parang memangkas aral Calamus yang seakan tak bertepi, dan itu semua berarti hanya sedikit sel memoriku yang bekerja untuk mengingat. Tapi sebagai pertanda, layaknya monumen pahlawan bangsa 2x3 meter yang tegak di persimpangan jalan untuk menginngat jasa mereka, betapapun sedikitnya itu untuk mewakili jerih payahnya, begitu pula aku saat ini mencoba membangunnya. Sebuah cerita, sebuah monument bagiku tentang target, posisi, lapar dan putus asa.   

Kamis, 25 Februari 2010

Sebuah Jalan

Sebuah jalan
Aku adalah sebuah jalan
dan perjalanan adalah rumahku..
yang biru, yang membeku dalam kardus berdebu..

sementara langit yang menyeruak kelabu,
tempatku menitipkan senyum dan rintihan
yang kadang kelu dan tersekat dibalik kelambu

dan kepada malam,
yang selalu kurinduikan dimanapun ia..
ku hanya bisa diam dan menatap dalam padanya
karena kuyakin ia lebih tahu

apa mimpimu? ingat arah,tujuan dan jarak!!

arah?
jangan tanyakan itu padaku..
karena barat dan timur tak ada beda..
kecuali kau menentang Coupernicus
dan tujuan hanyalah titik hempaskan nafas sekejap
seperti klimaks cerita yang besok akan biasa
karena jarak terdekatpun pun adalah titik lengkung dalam
hidup yang relatif...