Rabu, 09 Februari 2011

Hanya Amnesia

00:19, belum tidur di taman, lidah terasa menebal dan berasa asin, sebuah jamuan tanpa lilin yang menyentuh.

Setelah bergelas kopi tanpa gula pun ludas,ku harap tiada lagi yang akan tersisa disana, walapun harus sekali lagi menatap gelap mencari bayangan kata-kata. Wangi belum juga mau pudar setelah bertahun bercumbu dengan senyap, berganti-ganti, berubah-ubah, saling menjilat  meniti jalan yang ternyata hanyalah jembatan es yang kian meleleh.
Siapa lagi yang dapat menerka datangnya kegelapan mutlak tanpa peringatan sangkakala? Aku mampu. Lewat mimpi. Gemuruh 2000 mil dari tiada menuju mengapa. Dari gelap pada akhirnya tak juga mampu menuju terang bahkan melompat ke dalam jurang. Akankah harus kusebut lagi namaMu disini?
Mungkin tiada lagi yang dapat menyebut arti bulan Juni selain aku, yang terbang di bulan Oktober dan jatuh di bulan November. Walaupun  bulan di atas sana selalu sama masih sewarna perak penuh korosi. Hei, Bukankah kau yang mengajariku cara menghias pelangi yang kian memucat dan meleparkan kuas ke dalam senja, dimana aku memilih oranye dari pada ungu. Bukankah kau yang mengajariku merapal mantra untuk merubah arah angin di tepian lapangan bola kala itu. Lupa??

ah, aku kira hanya amnesia.


00:47, angin taman mencoba mengusirku agar pulang dan terlelap tidur.

Senin, 25 Oktober 2010

Meracau


Pukul 3.55 dini hari, segera menulis. Tidak tidur, namun kakiku rasanya mati rasa, suatu sambutan selamat datang yang diberkati.
Malam ini sungguh gelap. Solusi yang sudah terlalu lama mencekikku bersama dengan debu padang pasir dan sakitnya kakiku untuk menggapai pintu-pintu yang tersembunyi. Ujung kematian palsu untuk mengeluarkan para perampok nurani. Masih banyak lagi yang belum kulihat. Apa yang diputuskanNya di bawah bintang-bintang itu? Seseorang harus menaruh dirinya sendiri, dimana pun dia berpijak.
Dia berjalan dalam cahaya di dalam istana ThebanNya melewati aula yang diabaikan, aula yang melemparkan diriNya sendiri ke dalam hasutan yang meresahkan demi mendapatkan tahta keemasan sampai ranjang ukirNya. Apakah kekuasaanNya berharap untuk melihat perunjukan sirkus? Kurasa tidak. Apakah yang kadang berperan sebagai Dewa Osiris itu sedang mencari teman? Kurasa tidak. Apakah penguasa surgawi Ma’at ini masih ingin menunggang unta, memberi makan harimau, menguliti tahanan, bermain ayunan pada palang yang bergantung, bermain dengan belalai gajah, membelai jerapah? Kurasa tidak.
Hasrat-hasrat itu meliputiku malam ini dan mencegahku untuk tidur. Malam ini, setelah beberapa menit memikirkan kesulitanku, Horus memberi upeti yang yang lebih kejam daripada sebelumnya yaitu sebuah sebuah permainan kata dalam bahasa masa depan. Horus meminta waktu, waktu untuk perutku yang sakit, terbakar di dalam rasa malu dan sepi, tak dapat di dekati, waktu yang sangat berharga dekat dengan jurang kematianku, bagaimana bila pelindungku yang berkepala elang itu meminta imbalan dariku?
Bagaimana aku merencanakan perjalanan terakhirku itu yang kuyakin akan segera datang, tak diragukan lagi, yang diantarkan oleh panah Hyksos atau oleh pedang beracun para penjahat  yang berhamburan ke arahku atau oleh buaya yang tumbuh setiap hari di dalam perutku, yang pada akhirnya akan memakan perutku jika aku tidak segera mengirimnya ke bawah tanah.
Saat itu kuharap aku sudah bangun untuk menyambut sang mentari walapun aku telah kehilangan hari utuh lagi demi rasa sakit dan lelah tubuhku. Berat kakiku rasanya sudah seratus kilo gram. Kepalaku rasanya di tekan oleh dua kepalan raksasa. Raungan perutku yang mengamuk, kucoba menawar beberapa menit lagi tetapi dia tak mau berdamai, malah semakin rusuh.
4.25, shubuh, segera membuat susu dan menunggu adzan shubuh yang tiba-tiba kurindukan.

 

Jumat, 28 Mei 2010

Untuk Rea

Di sisa kata yang mampu kuucapkan ini, aku hanya ingin menancapkan sebuah malam berbingkai reruntuhan senyum dan bayangan. Sebuah malam indah dalam gulitanya yang mengendapkan semua suara, yang merangkak diantara belantara detik menuju hampa. Sebuah malam sang Bandung Bondowoso yang tak ingin segera berakhir.

Maka rebahlah disini, di tikar bianglala senja yang telah menghilang ini dan lihatlah dengan terpejam segala yang tak pernah nampak. Disini kita tak mendendangkan nada hanya bunyi dan kata-kata.
Di sana di balik bayangan anyaman awan itu ada sesuatu yang ingin diketahui dengan diam.

Disana ada satu masa yang berlangsung di luar waktu dimana rasa, warna dan suara akan kehilangan eksisitensinya. Semuanya melebur menjadi hening. Sedangkan ruang akan serupa gelombang, saling terlipat namun tak berdesakan dimana aku, kamu dan mereka ternyata hanya satu rupa dalam senyap.

Dari kedalaman kosong yang tak hendak putus ini, melompatlah dari setiap helaan nafasmu. Rasakan ya rasakanlah sesuatu yang asing, tak terkenali namun indah ini. Resapilah kejemuan dengan tenang maka cahaya akan menjemputmu disana.
Aku kan pergi untuk bermetaformosa, menjemput bentuk baru yang selalu kurindu.
Selamat datang!!

Tuhan yang kesepian di Taman kota

Tuhan yang kesepian memanggilku bercakap
di taman kota.


Malam di jalan kehabisan pejalan,
menjaga kami dari kantuk. 



Karena kami harus terus terjaga,
kalau-kalau mimpi rakyat terlepas,
saling berkumpul mengadukan perlakukanku
kepada Tuhan. 



Ini bisa runyam.

Aku harus bisa mengantisipasi,
jangan sampai Tuhan tahu.


Dia itu sosoknya tak terduga,
biasanya mihak rakyat kecil.


dan Tuhan kalau kesepian 
permintaannya bisa macam-macam
sampai menjelang pagi.